Banyak orang tidak pernah memasukkan perjalanan menuju tempat kerja ke dalam perhitungan gaya hidup. Waktu di kendaraan dianggap sebagai jeda antara rumah dan kantor, bukan aktivitas yang memiliki konsekuensi bagi tubuh. Padahal, jika perjalanan pergi-pulang memakan dua jam sehari, jumlahnya dapat mencapai sekitar sepuluh jam dalam lima hari kerja.
Padahal, sesuatu yang rutin justru layak diperhitungkan ketika kita berbicara tentang gaya hidup.
Duduk di dalam kendaraan tetap merupakan waktu duduk. Jika pekerjaan juga mengharuskan seseorang berada di depan komputer selama berjam-jam, perjalanan dapat menambah durasi sedentari dalam satu hari. Olahraga setelah bekerja tentu bermanfaat, tetapi aktivitas tersebut tidak membuat seluruh waktu duduk sebelumnya seolah tidak pernah terjadi.
Perjalanan juga dapat memengaruhi waktu yang tersedia untuk aktivitas lain. Dua jam di jalan berarti dua jam yang tidak dapat digunakan untuk tidur, menyiapkan makanan, berolahraga, bersantai, atau menjalani aktivitas sosial. Jika jam berangkat harus semakin pagi sementara waktu pulang semakin malam, tubuh dapat kehilangan sebagian ruang untuk melakukan pemulihan.
Kondisi lingkungan menambahkan lapisan berikutnya. Pengendara sepeda motor dapat menghadapi panas, debu, keringat, dan perubahan cuaca, sementara pengguna mobil atau transportasi publik dapat berpindah berkali-kali dari udara panas menuju ruangan berpendingin. Kulit ikut mengalami perubahan lingkungan tersebut setiap hari.
Tidak semua orang memiliki pilihan untuk tinggal dekat dengan tempat kerja. Karena itu, solusi realistis bukan sekadar menyarankan seseorang menghilangkan perjalanan panjang. Yang lebih masuk akal adalah melihat bagian mana dari rutinitas tersebut yang masih dapat dikelola.
Rutinitas membersihkan tubuh setelah kembali ke rumah karena itu bukan hanya persoalan menghilangkan aroma setelah seharian bekerja. Body wash dapat membantu membersihkan keringat, sebum, dan kotoran yang terkumpul sepanjang aktivitas. Pakaian yang lembap juga sebaiknya diganti agar kulit tidak terus berada dalam kondisi tertutup dan basah.
Namun, perjalanan panjang memiliki dimensi yang lebih besar daripada urusan kulit. Jika dua jam perjalanan membuat waktu tidur terus berkurang, olahraga selalu dibatalkan, makan menjadi tidak teratur, dan tubuh hampir tidak memiliki kesempatan bergerak, masalahnya terletak pada keseluruhan pola hidup.
Kita sering menghitung gaya hidup dari apa yang sengaja dilakukan: berapa kali olahraga, apa yang dimakan, atau berapa jam tidur. Waktu perjalanan jarang mendapat tempat dalam hitungan tersebut karena terasa seperti sesuatu yang harus dilewati.
Padahal, dua jam sehari bukan ruang kosong dalam kehidupan. Tubuh tetap berada di sana, menjalani setiap menitnya. Jika perjalanan telah menjadi rutinitas selama bertahun-tahun, cara kita menjalaninya juga layak diperlakukan sebagai bagian dari cara kita merawat diri. [][Rommy Rimbarawa/DRM]