Back to Articles
ACTIVE LIFESTYLE

Tubuh Tidak Menghitung Berapa Jam Kita Bekerja, tetapi Bagaimana Kita Menjalaninya

Jam kerja yang sama dapat memberikan beban berbeda pada tubuh. Gerakan, jeda, postur, dan pemulihan ikut menentukan bagaimana tubuh menjalani kesibukan.

August 18, 2026
4 min read
8 views
Tubuh Tidak Menghitung Berapa Jam Kita Bekerja, tetapi Bagaimana Kita Menjalaninya
Delapan jam bekerja tidak selalu memberi dampak yang sama. Tubuh lebih merasakan posisi, tekanan, jeda, gerakan, dan kebiasaan yang menyertai jam-jam tersebut.

Dua orang bisa bekerja selama delapan jam dan pulang dengan kondisi tubuh yang sangat berbeda. Yang satu masih memiliki cukup energi untuk berjalan santai, makan malam bersama keluarga, lalu tidur dengan nyaman. Yang lain pulang dengan bahu kaku, kepala terasa penuh, mata lelah, dan hanya ingin menjatuhkan diri ke tempat tidur.

Jumlah jam kerja mereka sama. Bahkan, jenis pekerjaannya mungkin tidak jauh berbeda. Namun, tubuh tidak memiliki mesin absensi yang menghitung pukul berapa seseorang mulai dan selesai bekerja.

Tubuh mengalami pekerjaan melalui sesuatu yang lebih konkret. Berapa lama kita duduk tanpa berpindah posisi, seberapa sering mata memperoleh jeda dari layar, kapan terakhir minum, apakah makan siang benar-benar digunakan untuk beristirahat, sampai berapa lama pikiran tetap membawa pekerjaan setelah laptop ditutup.

Itulah sebabnya pembicaraan tentang kesehatan pekerja tidak cukup berhenti pada berapa lama seseorang bekerja. Cara kita mengisi jam-jam tersebut sama pentingnya.

Delapan Jam Bisa Menjadi Delapan Pengalaman yang Berbeda
Bekerja di depan komputer sering terlihat tidak melelahkan karena tubuh tidak melakukan aktivitas fisik berat. Namun, mempertahankan posisi tubuh dalam waktu panjang juga merupakan beban. Otot tertentu terus bekerja mempertahankan postur, sementara bagian tubuh lainnya hampir tidak memperoleh gerakan yang cukup.

Kemudian datang rapat demi rapat. Makan siang dilakukan sambil membalas pesan. Kopi menjadi alasan untuk tetap terjaga, sementara air putih terlupakan. Ketika pekerjaan selesai, tubuh memang tidak habis berlari sepuluh kilometer, tetapi bukan berarti ia tidak menghabiskan energi.

World Health Organization
menempatkan perilaku sedentari sebagai kondisi ketika seseorang menghabiskan waktu terjaga dengan pengeluaran energi rendah dalam posisi duduk, bersandar, atau berbaring. Ini penting karena seseorang dapat memenuhi rekomendasi olahraga tetapi tetap memiliki waktu sedentari yang tinggi sepanjang hari. Satu jam di pusat kebugaran tidak otomatis menghapus kebiasaan duduk hampir tanpa jeda selama berjam-jam.

Penelitian tentang kesehatan kerja juga semakin melihat pentingnya memecah periode duduk yang panjang. Berdiri, berjalan sebentar, mengambil air minum, melakukan peregangan ringan, atau sekadar berpindah tempat membuat tubuh memperoleh variasi aktivitas yang tidak didapatkan ketika kita terus berada di kursi yang sama.

Masalah serupa terjadi pada pikiran. Seseorang mungkin sudah meninggalkan kantor pukul lima sore, tetapi pekerjaan masih berjalan di kepalanya hingga malam. Pesan diperiksa ketika makan malam, surat elektronik dibuka sebelum tidur, dan pagi berikutnya dimulai bahkan sebelum tubuh benar-benar memperoleh kesempatan untuk pulih.

Jadi, delapan jam kerja tidak pernah benar-benar hanya berbicara tentang delapan jam. Tubuh juga mengalami semua kebiasaan yang kita masukkan ke dalamnya.

Cara Menjalani Hari Menentukan Cara Tubuh Membawanya Pulang
Kita tentu tidak selalu bisa mengurangi jam kerja. Ada tenggat, rapat, perjalanan bisnis, target, dan tanggung jawab yang memang harus diselesaikan. Namun, masih ada ruang untuk mengubah bagaimana tubuh menjalani semua tuntutan tersebut.

Mulailah dari hal yang tampak terlalu sederhana untuk disebut strategi kesehatan. Berdiri setelah terlalu lama duduk. Berjalan ketika ada kesempatan. Minum sebelum benar-benar merasa haus. Berikan mata waktu untuk melihat sesuatu selain layar. Jangan biarkan pakaian yang basah oleh keringat tetap menempel terlalu lama setelah aktivitas.

Perawatan tubuh juga memiliki tempat di dalam pola tersebut. Setelah seharian menghadapi udara ber-AC, polusi perjalanan, keringat, minyak, serta gesekan pakaian, membersihkan tubuh bukan sekadar ritual sebelum tidur. Itu menjadi salah satu cara sederhana memisahkan fase tubuh yang bekerja dengan fase tubuh yang mulai beristirahat.

Bagi pria dengan mobilitas tinggi, perhatian serupa berlaku untuk bagian tubuh yang jarang dibicarakan. Area yang tertutup sepanjang hari menghadapi kombinasi panas, kelembapan, dan gesekan yang berbeda dari kulit wajah atau tangan. Menjaga kebersihan dan kenyamanannya merupakan bagian dari perawatan tubuh, bukan sesuatu yang baru dilakukan ketika keluhan muncul.

Kebiasaan-kebiasaan kecil ini mungkin tidak membuat jumlah pekerjaan berkurang. Namun, ia mengubah pengalaman tubuh selama menjalaninya. Ada perbedaan antara bekerja delapan jam dengan hampir tidak pernah bergerak dan bekerja delapan jam sambil memberikan tubuh kesempatan untuk berganti posisi, bergerak, makan dengan layak, serta memperoleh jeda.

Kita sering mengukur hari dari sesuatu yang mudah dihitung. Berapa rapat yang selesai, berapa pekerjaan yang dicoret dari daftar, berapa jam yang digunakan, atau berapa target yang tercapai. Tubuh memiliki cara menghitung yang berbeda.

Ia mengingat berapa lama kita memaksanya diam, seberapa sering rasa lelah diabaikan, apakah kesempatan untuk bergerak digunakan, dan apakah setelah bekerja kita memberinya ruang untuk pulih. Karena itu, pertanyaan tentang gaya hidup aktif mungkin tidak selalu dimulai dengan, "Berapa jam saya berolahraga minggu ini?"

Sesekali, pertanyaan yang lebih berguna justru jauh lebih sederhana: bagaimana tubuh saya menjalani hari ini? [][Rommy Rimbarawa/DRM]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi
Tags: #kesehatan pria #active lifestyle #dermond #sedentari #work-life balance
Continue Reading

RELATED ARTICLES