Back to Articles
EDUCATION

Perawatan Pria Tidak Harus Meniru Rutinitas Perawatan Perempuan

Perawatan pria tidak perlu meniru rutinitas perempuan. Kondisi kulit, aktivitas, kebiasaan, dan kebutuhan individual lebih menentukan.

September 21, 2026
4 min read
1 views
Perawatan Pria Tidak Harus Meniru Rutinitas Perawatan Perempuan
Kulit pria memang punya karakter biologis tertentu. Namun, perawatan yang tepat tetap harus mengikuti kebutuhan kulit, bukan menyalin rutinitas orang lain.

Ada perubahan menarik dalam cara pria memandang perawatan diri. Jika dulu rutinitas pria sering berhenti pada sabun muka dan deodoran, kini semakin banyak yang mengenal serum, pelembap, tabir surya, bahkan berbagai bahan aktif. Perubahan ini positif karena menunjukkan bahwa merawat diri mulai dilihat sebagai bagian dari kesehatan, bukan sekadar urusan penampilan.

Namun, masalah baru muncul ketika referensi perawatan pria sebagian besar berasal dari rutinitas perempuan. Produk yang digunakan pasangan, teman, atau kreator konten kemudian ditiru langkah demi langkah. Padahal, seseorang tidak membutuhkan rutinitas yang sama hanya karena produk tersebut memberikan hasil baik pada orang lain.

Perbedaannya bukan soal laki-laki harus memiliki produk ‘maskulin’ dan perempuan harus menggunakan produk lain. Yang lebih penting justru memahami karakter kulit, aktivitas, kebiasaan bercukur, lingkungan, serta masalah spesifik yang benar-benar ingin ditangani.

Kulit Pria Memang Berbeda, tetapi Dasar Perawatannya Tetap Sama
American Academy of Dermatology
menjelaskan bahwa terdapat perbedaan biologis antara kulit pria dan perempuan, termasuk kulit pria yang secara umum lebih tebal. Namun, organisasi tersebut juga menegaskan bahwa elemen dasar perawatan kulit yang efektif tetap sama: memahami tipe kulit, membersihkan dengan tepat, menggunakan pelembap sesuai kebutuhan, memperhatikan teknik bercukur, dan melindungi kulit dari sinar matahari.

Perbedaan hormonal ikut memberi konteks tambahan. Aktivitas androgen dapat membuat produksi sebum pada pria lebih tinggi, sementara pertumbuhan rambut wajah membuat bercukur menjadi faktor yang cukup khas dalam rutinitas banyak pria. Artinya, kebutuhan kulit pria bukan sekadar versi yang dipersingkat dari rutinitas perempuan, tetapi juga bukan kategori yang sepenuhnya terpisah.

Menurut dr. Fajar Arief Noor, rutinitas pria sebaiknya dibangun dari masalah yang benar-benar dialami kulit dan tubuhnya. Pria yang setiap hari bercukur, banyak berkeringat, bekerja di luar ruangan, atau memiliki area tubuh yang mudah lembap akan menghadapi kebutuhan yang berbeda dari orang yang lebih banyak bekerja di dalam ruangan dengan aktivitas fisik rendah.

Sudut pandang tersebut sejalan dengan pemikiran Dr. Leslie Baumann, dermatolog Amerika Serikat dan penulis The Skin Type Solution yang terbit pada 2006. Dalam bukunya, Baumann memperkenalkan sistem klasifikasi 16 tipe kulit dan menekankan bahwa pemilihan produk seharusnya mengikuti karakter kulit individual, bukan asumsi umum tentang siapa penggunanya.

Pendekatan ini penting karena dua pria pun belum tentu membutuhkan rutinitas yang sama. Satu orang dapat memiliki kulit berminyak dan rentan jerawat, sementara pria lain mengalami kulit kering serta mudah mengalami iritasi setelah bercukur. Jenis kelamin memberi sebagian konteks biologis, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memahami kondisi kulit secara personal.


Rutinitas yang Tepat Tidak Harus Panjang untuk Menjadi Efektif
Pengaruh media sosial membuat jumlah langkah sering disamakan dengan keseriusan merawat diri. Rutinitas sepuluh tahap terlihat lebih lengkap dibanding tiga tahap sederhana. Padahal, kulit tidak memberi penghargaan tambahan hanya karena semakin banyak produk digunakan.

Bagi banyak pria, rutinitas yang realistis justru lebih bermanfaat. Membersihkan kulit setelah aktivitas, menggunakan pelembap ketika dibutuhkan, memakai tabir surya saat terpapar sinar ultraviolet, dan memperhatikan teknik bercukur sudah membentuk fondasi yang kuat. Langkah tambahan dapat masuk ketika memang ada kebutuhan khusus.

Hal yang sama berlaku untuk tubuh. Pria yang rutin berolahraga atau memiliki mobilitas tinggi menghadapi keringat, sebum, gesekan, serta pakaian lembap hampir setiap hari. Perawatan tubuh dan area sensitif kemudian menjadi bagian dari rutinitas yang relevan, bukan tambahan yang dilakukan hanya karena sedang mengikuti tren.

Produk seperti body wash, produk area sensitif, atau deodoran seharusnya dipilih berdasarkan fungsi dan konteks penggunaan. Tidak ada kebutuhan untuk memasukkan seluruh kategori produk ke dalam rutinitas sekaligus. Produk hanya berguna ketika menjawab kebutuhan yang memang ada dan cukup nyaman untuk digunakan secara konsisten.

Prinsip dari Dr. Baumann juga membantu menjelaskan mengapa meniru rutinitas pasangan tidak selalu memberi hasil yang sama. Sistemnya berangkat dari karakter kulit dan kebutuhan individual, bukan dari asumsi bahwa satu kelompok orang harus memiliki rutinitas identik. Pendekatan personal seperti ini jauh lebih masuk akal daripada membagi perawatan hanya berdasarkan label pria dan perempuan.

Perawatan pria karena itu tidak membutuhkan pembuktian bahwa dirinya harus berbeda dari perempuan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengabaikan rutinitas yang tidak relevan, sekaligus memberi perhatian pada kebutuhan tubuh yang memang khas dari aktivitas dan kebiasaan sehari-hari.

Rutinitas yang baik bukan rutinitas yang terlihat paling lengkap di rak kamar mandi. Ia adalah rutinitas yang memahami siapa pemilik kulit tersebut, apa yang dihadapinya setiap hari, dan langkah apa yang benar-benar bisa dipertahankan. Dari situlah perawatan menjadi lebih personal, lebih rasional, dan jauh lebih mudah dijalani. [][Vikalena Lasmoskwa/DRM]

Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.
Tags: #perawatan pria #dermond #education #men's grooming #skin type
Continue Reading

RELATED ARTICLES