Kulit tidak bekerja dengan cara yang persis sama sepanjang hari. Seperti tubuh, berbagai proses biologisnya ikut bergerak mengikuti ritme siang dan malam.
Jam biologis biasanya dibicarakan dalam konteks tidur. Tubuh merasa mengantuk ketika malam datang, lebih waspada pada waktu tertentu, dan mengalami perubahan hormon mengikuti siklus harian. Namun, ritme tersebut ternyata tidak hanya berlangsung di otak.
Kulit juga memiliki sistem waktu biologis. Sel-selnya membawa mekanisme circadian rhythm yang membantu mengatur berbagai proses berdasarkan siklus sekitar 24 jam. Artinya, kulit yang kita lihat sama di depan cermin sebenarnya menjalankan aktivitas biologis yang dapat berubah antara pagi, siang, sore, dan malam.
Perubahan itu bukan berarti kulit memiliki dua mode sederhana bernama 'siang' dan 'malam'. Ritme biologis bekerja bersama cahaya, tidur, hormon, suhu tubuh, aktivitas, lingkungan, serta kebiasaan seseorang.
Memahami mekanisme tersebut memberi perspektif berbeda tentang perawatan kulit. Waktu bukan sekadar penanda kapan produk digunakan, tetapi bagian dari lingkungan biologis tempat kulit menjalankan pekerjaannya.
Sel Kulit Ternyata Juga Mengenali Waktu
Tubuh manusia memiliki jam utama di otak yang membantu menyelaraskan ritme harian dengan siklus terang dan gelap. Namun, berbagai jaringan tubuh juga memiliki jam perifer, termasuk kulit. Keratinosit, melanosit, fibroblas, dan struktur kulit lainnya memiliki aktivitas biologis yang dipengaruhi mekanisme sirkadian.
Ritme ini berkaitan dengan berbagai fungsi kulit. Penelitian tentang kronobiologi kulit menunjukkan adanya variasi harian pada sejumlah parameter, termasuk temperatur kulit, aliran darah, produksi sebum, proliferasi sel, serta kehilangan air melalui epidermis atau transepidermal water loss. Besarnya perubahan tentu tidak identik pada setiap orang maupun setiap bagian tubuh.
Salah satu temuan menarik adalah kecenderungan transepidermal water loss meningkat pada periode tertentu di malam hari. Secara sederhana, hal tersebut menunjukkan bahwa kemampuan kulit mempertahankan air tidak selalu berada pada tingkat yang persis sama selama 24 jam.
Temperatur kulit juga mengikuti ritme tertentu. Perubahan suhu berkaitan dengan sirkulasi darah serta mekanisme termoregulasi tubuh. Karena itu, sensasi kulit pada malam hari dapat berbeda dari pagi meskipun tidak ada produk baru yang digunakan.
Proses pembelahan dan perbaikan sel pun tidak berlangsung secara acak. Tubuh mengatur berbagai aktivitas biologis berdasarkan waktu agar penggunaan energi dan respons terhadap lingkungan dapat berlangsung secara terkoordinasi. Kulit menjadi bagian dari sistem besar tersebut.
Namun, konsep ini perlu dibedakan dari klaim pemasaran bahwa kulit hanya 'memperbaiki diri' pada malam hari. Proses pemeliharaan dan perbaikan tetap berlangsung sepanjang waktu. Yang berubah adalah pola serta intensitas berbagai proses biologis sesuai ritme tubuh.
Jam Kulit Tidak Berarti Kita Membutuhkan Produk untuk Setiap Jam
Mengetahui bahwa kulit memiliki ritme biologis mudah membawa kita pada kesimpulan bahwa rutinitas perawatan harus dibuat semakin rumit. Pagi membutuhkan satu kelompok produk, sore kelompok lain, kemudian malam membutuhkan rangkaian panjang agar mengikuti 'jam kulit'. Sainsnya tidak harus diterjemahkan seperti itu.
Perbedaan terbesar antara siang dan malam justru datang dari lingkungan yang dihadapi kulit. Pada siang hari, kulit lebih mungkin berhadapan dengan radiasi ultraviolet, panas, polusi, aktivitas fisik, keringat, dan berbagai paparan eksternal. Perlindungan terhadap sinar ultraviolet karena itu memiliki alasan yang sangat jelas dalam rutinitas pagi dan siang.
Malam menawarkan kondisi berbeda. Aktivitas luar biasanya berkurang dan kulit tidak lagi menghadapi paparan ultraviolet dari matahari. Membersihkan residu yang terkumpul sepanjang hari dan menjaga kelembapan sesuai kebutuhan menjadi pendekatan yang jauh lebih rasional daripada mengejar sebanyak mungkin tahapan.
Tidur juga masuk ke dalam persoalan ini. Ritme sirkadian sangat berkaitan dengan siklus tidur-bangun, sehingga kebiasaan tidur yang terus berubah, paparan cahaya pada malam hari, atau kerja malam dapat memengaruhi sinkronisasi sistem biologis tubuh. Kulit tidak hidup terpisah dari perubahan tersebut.
Karena itu, skincare tidak dapat menggantikan gaya hidup. Krim malam mungkin memiliki formulasi yang sesuai untuk digunakan sebelum tidur, tetapi ia tidak dapat memberikan fungsi biologis yang sama dengan tidur yang cukup. Begitu pula serum tidak dapat 'mengatur ulang' seluruh ritme sirkadian hanya karena diaplikasikan pada jam tertentu.
Bagi pria dengan jadwal kerja tidak teratur, persoalan ini menjadi semakin relevan. Pekerja shift, orang yang sering bepergian melintasi zona waktu, atau mereka yang hampir setiap malam tidur pada jam berbeda mengalami pola terang-gelap dan tidur-bangun yang tidak sama dengan rutinitas konvensional.
Hal tersebut tidak berarti kulit mereka pasti akan bermasalah. Respons manusia sangat individual dan dipengaruhi banyak faktor. Namun, memahami bahwa kulit ikut menjadi bagian dari sistem waktu tubuh membantu menjelaskan mengapa kesehatan kulit tidak dapat dipisahkan sepenuhnya dari tidur dan ritme kehidupan.
Ada sesuatu yang menarik dari cara kulit bekerja. Kita dapat mengoleskan produk pada waktu yang kita pilih, tetapi kulit memiliki jadwal biologis yang jauh lebih tua daripada seluruh rutinitas kosmetik yang pernah dibuat manusia.
Mungkin itu sebabnya perawatan yang baik tidak selalu dimulai dengan menambah satu produk malam lagi. Kadang tubuh hanya membutuhkan pola yang lebih konsisten: cukup tidur, memahami paparan pada siang hari, membersihkan kulit sesuai kebutuhan, dan memberikan perlindungan yang relevan.
Jam biologis kulit akan terus berjalan tanpa terlihat oleh mata. Kita tidak perlu mengaturnya setiap menit. Yang lebih penting adalah tidak terus-menerus membuat tubuh kehilangan petunjuk tentang kapan waktunya aktif, kapan menghadapi lingkungan, dan kapan memperoleh kesempatan untuk beristirahat. [][Rudi Tenggarawan/DRM]
Penulisan artikel ini dibantu AI dan telah melewati proses kurasi Redaksi.