Kata ‘pengawet’ memiliki persoalan citra. Ketika muncul pada makanan atau kosmetik, istilah tersebut sering langsung diasosiasikan dengan bahan sintetis, penggunaan berlebihan, atau sesuatu yang sebaiknya tidak ada. Tidak mengherankan jika klaim preservative-free terdengar menarik bagi sebagian konsumen.
Risikonya tidak berhenti ketika produk keluar dari pabrik. Setiap kali kemasan dibuka, jari menyentuh produk, pompa digunakan, atau air dari kamar mandi masuk secara tidak sengaja, kosmetik kembali berhadapan dengan lingkungan di luar kemasan.
Pengawet Bekerja Melawan Sesuatu yang Tidak Bisa Dilihat Mata
Bakteri, khamir, dan kapang tidak membutuhkan izin untuk masuk ke dalam kosmetik. Kontaminasi dapat berasal dari bahan baku, lingkungan produksi, kemasan, maupun penggunaan sehari-hari. Karena ukurannya mikroskopis, produk juga tidak harus langsung berubah warna atau berbau aneh ketika kontaminasi mulai terjadi.
Apt. Cahya Khairani Kusumawulan, M.Farm. menjelaskan bahwa sistem pengawet perlu dilihat sebagai bagian dari keseluruhan desain formula. Pemilihannya harus mempertimbangkan jenis produk, kandungan air, pH, bahan lain yang digunakan, kemasan, serta karakter pemakaian. Pengawet yang efektif pada satu sistem belum tentu memberikan performa yang sama ketika dipindahkan begitu saja ke formula lain.
Namun, sistem tersebut tidak hanya bergantung pada satu bahan pengawet. Praktik manufaktur yang baik, kualitas bahan baku dan air, kebersihan fasilitas, desain kemasan, serta proses produksi semuanya berperan. Pengawet bukan alasan bagi produsen untuk mengabaikan aspek higienitas lainnya.
Tanpa Pengawet Tidak Otomatis Berarti Lebih Aman
Klaim preservative-free sering terdengar seperti jaminan bahwa sebuah produk lebih lembut. Kenyataannya, keamanan kosmetik tidak dapat disimpulkan hanya dari ada atau tidaknya satu kategori bahan. Formula perlu dilihat sebagai sistem lengkap.
Ada produk tertentu yang mungkin tidak membutuhkan sistem pengawet konvensional karena karakter formulanya tidak mendukung pertumbuhan mikroorganisme dengan cara yang sama. Produk dengan kandungan air sangat rendah atau tanpa air, misalnya, memiliki tantangan mikrobiologi berbeda dibanding emulsi berbasis air. Desain kemasan dan karakter formula juga dapat membantu mengurangi risiko kontaminasi.
Sebaliknya, menghilangkan pengawet dari produk yang sebenarnya membutuhkan perlindungan mikrobiologis bukan otomatis menjadi keputusan yang lebih baik. Kosmetik yang terkontaminasi mikroorganisme justru dapat membawa risiko bagi pengguna, terutama ketika digunakan pada area yang sensitif atau kondisi kulit tertentu.
Persepsi negatif terhadap pengawet juga sering muncul karena seluruh bahan dalam kategori tersebut diperlakukan seolah sama. Padahal, terdapat berbagai jenis sistem pengawet dengan karakter, rentang penggunaan, kompatibilitas, dan batas regulasi yang berbeda. Penilaian seharusnya dilakukan terhadap bahan dan penggunaannya secara spesifik.
Perubahan aroma, warna, tekstur, pemisahan yang tidak semestinya, atau kondisi produk yang mencurigakan juga sebaiknya tidak diabaikan. Namun, ketiadaan perubahan visual bukan jaminan mutlak bahwa produk bebas dari persoalan mikrobiologi karena mikroorganisme tidak selalu dapat dikenali dengan mata.
Pengawet memang jarang menjadi bahan yang membuat seseorang membeli kosmetik. Namanya tidak semenarik bahan aktif yang dicetak besar pada bagian depan kemasan dan manfaatnya pun hampir tidak terasa ketika produk digunakan.
Justru itulah keberhasilan pekerjaannya. Ketika sistem pengawet dirancang dengan tepat, pengguna mungkin tidak pernah menyadari bahwa ada komponen formula yang setiap hari membantu menjaga produk dari masalah yang tidak terlihat. Dalam kosmetik, terkadang bahan yang bekerja paling baik adalah bahan yang membuat kita tidak pernah mengalami alasan untuk memikirkannya. [][Adrian Damar/DRM]